Play the Quidditch
“No.”
“But I want to….”
“No, Mum…”
“I said yes.“
Derit pintu toko dibuka, membawa sedikit keramaian di jalan setapak di luar masuk ke dalam toko, sebelum hilang teredam bersama derit pintu kedua. Pelanggan yang baru saja masuk itu terlihat seperti sepasang ibu dan anak yang datang ke dokter gigi, bukannya ke sebuah toko sapu. Sang ibu terlihat menarik tangan anaknya dan membawanya melihat-lihat deretan sapu yang terpajang di etalase di dalam toko dengan antusiasme yang jelas terlihat, sementara yang ditarik hanya memerhatikan dengan enggan dan seperti tidak sabar untuk segera keluar dari tempat ini.
Bukannya dia tidak mau sebenarnya.
Sejak satu tahun yang lalu dia sudah ingin memiliki sapu sendiri, alih-alih menggunakan sapu sekolah yang terkadang susah disuruh berbelok. Anak perempuan itu mengerling deretan sapu di etalase, mengerling ibunya, lalu kembali memandangi lantai. Mungkin seharusnya dia tidak bercerita tentang dirinya yang mendaftar masuk tim Quidditch asramanya, rutuknya dalam hati.
Surat-surat yang dia kirimkan kepada ibunya sepanjang tahun lalu memang banyak sekali bercerita tentang olahraga yang baru saja dikenalnya itu, tentang dirinya yang entah bagaimana berhasil masuk tim dan menjadi chaser, dan segalanya. Ketika pulang untuk liburan musim panas pun itu menjadi salah satu hal yang harus diceritakannya ulang secara verbal. Tapi dia tidak mengira, bahwa ibunya akan menariknya ke toko sapu dan memaksanya untuk memilih salah satu.
Begini-begini dia cukup tahu diri.
Dikerlingnya lagi etalase yang memajang sapu-sapu berkilat dengan pandangan setengah ingin setengah enggan, mencari daftar harga yang dulu dilihatnya sewaktu pertama kali menginjakkan kaki di sini. Matanya menemukan apa yang dicarinya di salah satu etalase. Ditariknya ujung lengan baju ibunya, yang sekarang sedang sibuk mengagumi snitch, menunjuk daftar harga yang tertulis di atas sehelai perkamen.
Perempuan itu tersenyum simpul melihat perkamen yang ditunjuk anaknya, dan menariknya mendekat ke sana. Ia memandangi perkamen yang bertuliskan daftar harga barang untuk beberapa saat sebelum akhirnya berbicara.
“Mahal, ya?”
“I told you.“
“Aku cuma bisa membelikanmu yang ini. Is that okay?”
“Tidak perlu. Aku bisa pakai sapu sekolah, kok. Ayo kita keluar saja.”
Ditariknya tangan ibunya agar mereka cepat keluar dari toko itu, tapi dirasakannya tarikannya tertahan. Gadis itu berbalik menatap ibunya. Kedua iris biru itu bertemu pandang, yang satu memancarkan gurat tidak percaya dan sedikit kecemasan, sementara yang satu lagi tampak berusaha menenangkan. Selewat beberapa detik si gadis akhirnya menyerah, menurunkan pandangannya dan menghela napas berat.
“Benarkah tidak apa-apa?”
“Aku yang sedang bertaya padamu, tadi. Tidak apa-apakah kalau kau kubelikan sapu yang itu?”
Anggukan samar yang dia berikan rupanya cukup sebagai jawaban, karena perempuan itu akhirnya melepaskan tangan anaknya dan berjalan menuju salah seorang pegawai magang yang berada di sana. “Silver Arrow, dan Peralatan Perawatan Sapu,” gadis itu mendengar ibunya berkata pada si pegawai magang.
