Bagian 1
If happiness had a form what would it be?
Bukan sesuatu yang nyata katamu. Tidak bisa dibendakan. Tapi, Will, there’s an if in that sentence.
A glass, no? Something you can’t see and barely realize, but it’s there.
Kenapa selalu bertanya, Will? Mereka ada dimana-mana. Sunyikah dalam keluasan Chatsworth yang menyesakkan? Sepikah dengan lalu lalang kesibukan yang tak henti-hentinya? Kau mencari terlalu jauh, Will. Hingga tempat yang tak bisa kugapai lagi. Apa tidak ada disini hal yang kau cari itu?
You just have to change your point of view, and suddenly it’s there.
Tapi bahkan udara dingin dan kepapaan bukan berarti mereka tidak bahagia, kau tahu? Ada hal-hal kecil yang tidak disadari, terlewat untuk disyukuri. Tentu tidak menolak selimut hangat dan makanan yang mengenyangkan perut. Oh, bahkan itu pun salah satu bentuk kebahagiaan, right, Will? Hanya saja mereka yang kekurangan biasanya sangat menghargai ketika kebahagiaan itu datang. Sekerat roti empuk yang hangat, atau segelas cokelat manis di malam yang dingin. Hanya sesimpel itu.
In a form of beautiful colour, caused by the light reflecting on it, yet it’s there.
Seperti kaca-kaca ukiran di Chatsworth House, atau di gereja besar sana. Indah, Will? Lebih indah ketika matahari bangun dari peraduannya, sinarnya masih malu-malu mengantuk. Warnanya berkilauan, bukan? Karena itu tampaknya tak pernah sama. Ketika sinarnya mulai garang, kilaunya biasa saja. Namun ketika sinarnya kembali malu-malu di penghujung hari, warnanya bermain-main seperti kilauan permata. Jangan terlalu keras mencarinya, Will. Salah-salah akan pecah, karena kekerasan hati terkadang tidak melihat lagi kilaunya.
Fragile as it is, yet it gives people hope.
Rapuh, memang. Tapi banyak sekali kau temui. Jikapun pecah berkeping, masih ada serpihannya, dengan warna yang sama. Stubborn. Yang kecil pun masih berkilau, Will. Kemana saja kau mencarinya?
-Fin-
