Bagian 1

Puas menenggelamkan diri dalam tumpukan buku-bukunya yang ajaib, berkelana dalam dunia sihir yang sama sekali baru, saatnya menghabiskan sisa hari di keramaian Diagon Alley, berkelana di dunia nyatanya lagi. Oh, dan naga itu ada. Hewan-hewan Fantastis dan di Mana Mereka Bisa Ditemukan, mungkin lebih tepat dikatakan buku yang akan membuat orang seperti dirinya shock setengah mati dan juga menyadari betapa sempitnya pengetahuannya selama ini. Dan juga Chimaera. Pegawai di toko tongkat itu serius kalau begitu sewaktu menyebutkan nadi naga?

Kaki-kaki kecilnya melangkah di jalan berbatu. Rute mana lagi hari ini? Kemarin sempat tersasar ke jalanan kelabu dengan toko-toko mencurigakan, orang-orang memandang sinis padanya. Perasaaan tidak nyaman langsung membuatnya memutuskan cepat-cepat pergi dari sana. Kau tahu, perasaan yang membuatmu seolah-olah telah melakukan kesalahan besar, padahal yang kau lakukan saat itu hanya sesuatu yang kelihatannya wajar saja.

Rambut ikal cokelatnya dipermainkan angin. Memang lebih baik membiarkannya terurai daripada diikat sepanjang waktu. Sangat tidak sehat. Ah, bicara tentang sehat. Apa menyantap makanan seperti ini hampir sepanjang waktu bisa dibilang sehat, ya? Faye melirik es krim di tangan kanannya. Baru saja keluar dari Florean Fortescue, yang keberapa kalinya, sekarang eh?

Lalu lalang manusia, kenapa ada yang terduduk di pojokan sendirian? Anak hilang? Faye menggelengkan kepala perlahan. Anak sebesar dia hilang? Bercanda ya? Umurnya saja terlihat jauh lebih tua daripada Faye. Seorang gadis datang mendekat, dan menjatuhkan lima keping koin emas ke tangan anak muda yang tertengadah tadi. Oh, pengemis kah? Bahkan di dunia sihir pun ada pengemis. Mungkin di dunia sihir sekalipun uang tetap sesuatu yang sulit di dapat. Tidak seperti bayangannya ketika kecil dulu. Jika bisa melakukan sihir, kenapa tidak menyihir supaya dia bisa punya uang yang banyak sekalian? Tapi kelihatannya itu mustahil, eh? Buktinya di dunia sihir ini juga masih ada pengemis.

Dunia ini membusuk, Faye sudah lama tahu itu. Bahkan bagi anak kecil berumur sebelas tahun, bau busuknya sudah tercium. Menyengat. Tapi tidak selamanya, bukan. Dia termasuk mereka yang keras kepala, berpikir bahwa jika ada satu yang busuk, tidak berarti semuanya juga busuk. Masih berusaha percaya, pada yang terbaik dari seseorang. Tidak salah kan. Satu lagi entitas yang kali ini berjenis kelamin laki-laki menjatuhkan dua kepin koin emas ke tangan si pengemis. Bahkan menawarkan cokelat. Orang-orang baik itu masih ada, hanya tidak terlihat, tidak mau dilihat.

Jika tidak ingin membantu, tidak usah dilihat.

Kata-kata itu selalu teringat di kepalanya. Seperti halnya ketika ada yang terjatuh di depan mata. Apa gunanya hanya melihat saja tanpa melakukan sesuatu. Tidak tahukah rasa malu dari orang yang terjatuh itu. Sudah sakit, tidak ada yang menolong malah jadi tontonan. Maka kakinya membawanya ke hadapan si pengemis muda. Ah, kenapa kau jadi pengemis? Tidak adakah satu dari begitu banyak toko di sini yang mau menerimamu bekerja?

“Mau es krim? Belum dimakan kok. Aku tidak bawa apa-apa lagi untuk diberikan padamu.”

~ oleh Faye pada Februari 15, 2010.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.