Bagian 1
Jalanan aneh penuh dengan toko-toko aneh. Kesan pertamanya terhadap Diagon Alley. Bangunannya tidak jauh beda dengan beberapa bangunan lama di desanya. Hanya saja di sini bahkan terlihat lebih tua lagi. Bermacam-macam toko padat berjejeal-jejal di gang-gang sempit. Bangunan paling megah di sana hanya bangunan putih pualam yang menjulang, Gringotts, bank penyihir yang memesonanya saat pertama kali masuk namun juga memberikan rasa segan karena goblin-goblin bertampang masam yang menjaganya.
Sore hari seperti ini pengunjung mulai sedikit sepi. Sebagian dari mereka pasti memenuhi Leaky Cauldron di depan sana. Waktunya berbelanja sudah selesai. Beberapa yang tersisa terlihat terburu pergi mengejar waktu. Lengang. Tidak sepadat tadi siang.
Menjelajahi Diagon Alley adalah kegiatannya sehari-hari sekarang. Masuk gang sana, keluar di jalan yang sama sekali berbeda, entah kemana kakinya membawanya. Hingga sampai ke satu bagian yang sepi dengan tembok luas bercoret grafiti. Dikenalinya seseorang yang sedang berdiri di sana. Dia pegawai magang berambut merah di Toko Tongkat Ollivander. Ah, memalukan sekali kejadiannya. Meledakkan tongkatnya sendiri, menjatuhkan beberapa barang di sana. Memunculkan keributan saja kerjaannya sejak datang kemari.
Diperhatikannya kuas itu melukis huruf ‘I’ besar di tembok dengan grafiti yang mulai pudar. Si pemegang kuas terlihat asyik dengan dunianya sendiri, mulutnya bergerak-gerak, mungkin bersenandung kecil. Dia kah yang juga membuat grafiti-grafiti yang mulai pudar sebelumnya?
Tidak bermaksud mengganggu kesenangan orang, dilihatnya saja dari jauh tangan itu sibuk menggambar. Di balik bayangan bangunan temaram sore hari, tidak begitu menarik perhatian. Anak laki-laki lain datang mendekati si rambut merah. Temannya kah? Atau bukan? Jangan-jangan anak itu akan kena masalah karena menggambari tembok sembarangan.
