Libur musim panas sudah berakhir.
Anak perempuan yang tiga bulan lalu telah genap berusia tiga belas tahun itu melirik jam besar di dekat tempat duduknya. Pinggangnya sudah sejak lima belas menit yang lalu terasa pegal akibat duduk diam di kursi stasiun, menunggu palang ke peron 9 3/4 dibuka. Sebenarnya dia juga tidak tahu pasti kapan peronnya dibuka, yang jelas dia yakin tempat itu hanya dibuka ketika akan digunakan saja. Tentu akan repot urusannya jika ada muggle yang tahu-tahu menabrak dinding antara peron 9 dan 10 lalu menemukan peron 9 3/4. Jadi daripada mencoba memasukinya dan ternyata malah terpental jatuh, lebih baik dia menunggu hingga waktu yang kira-kira aman. Mungkin satu jam sebelum keberangkatan? Entahlah. Dia tiba terlalu pagi soalnya, dan bukan karena terlalu bersemangat menyambut tahun ajaran baru juga sebenarnya, tapi karena mengantar ibunya yang harus mengejar kereta pagi.
“Clive, Faye, baik-baik di sekolah.”
“Iya.”
“Jangan lupa menulis surat.”
“Iya.”
“Kapan sih kalian sudah boleh menggunakan sihirmu di luar sekolah?”
“Hah?”
“Aku tidak sabar ingin melihatnya, kau tahu?”
“…”
Seringai lebar tiba-tiba menghiasi wajahnya, mengingat percakapan singkat dengan ibunya sebelum kereta menuju bagian utara Inggris itu berangkat. Selalu dengan ketidaksabaran yang sama menunggu kedua anak kembarnya bisa mempraktekan sihir di depannya. Masih tidak puas dengan yang dilihat di Diagon Alley kemarin sepertinya.
“Sekarang, Clive?” tanyanya pada kakaknya yang ada di sebelahnya. Yang ditanya hanya memberikan anggukan singkat, tapi itu cukup sebagai jawaban.
Pukul sepuluh lewat dua puluh menit, dan setelah untuk kesekian kalinya mengubah posisi duduk, membuka tutup keranjang kucingnya, kehabisan bahan pembicaraan dengan kakaknya dan berulang kali melirik jam besar di dinding stasiun, gadis itu akhirnya bangkit dari tempat duduknya, membersihkan sedikit rok hitam selutut yang dikenakannya hari ini dan mendorong trolinya menuju peron 9 3/4. Roda trolinya bergemeretak beradu lantai stasiun, sesekali terdengar decit pelan, mungkin rodanya terlupa diminyaki oleh petugas stasiun.
Peron 7. Peron 8. Peron 9. Gadis itu berhenti di dinding pembatas peron 9 dan 10, memandang berkeliling, berharap menemukan satu dua wajah yang dikenalinya, siapa tahu bisa diajak duduk satu kompartemen sehingga dia ada teman bicara lain selama perjalanan. Tapi nihil. Ah, mungkin mereka belum datang, atau sudah di dalam kereta.
“Mau dulu-duluan?” tanyanya memandang Clive, nyengir. Tangannya sudah bersiap mendorong lagi trolinya, berniat mendahului, ketika didengarnya segerombolan orang di sebelahnya membicarakan sesuatu tentang peron 9 3/4.
“Hai. Hahaha, sepertinya ide ku untuk memperlihatkan jubah dan tongkat sihirku berhasil, ya? Kau pasti penyihir karena kau tahu tentang Hogwarts. Aku memang mau kesana. Tapi entahlah, aku bingung dengan Peron 9 3/4, dari tadi aku mencari itu tapi tidak ketemu. Apakah kau tahu, eh?”
Murid baru, eh?
“Hei, boleh aku bergabung? Saya Ciel Quinn. Kalian murid Hogwarts juga? Saya mencari peron 9 3/4, apa kalian tahu dimana?”
Well, sedikit kebaikan hati di awal tahun ajaran tidak ada salahnya.
“Hogwarts?” tanyanya kepada anak-anak itu sambil tersenyum ramah. “Peronnya di sini,” tunjuknya pada dinding pembatas peron sembilan dan sepuluh. “Tinggal diterobos saja dan kalian akan tembus masuk ke dalam peron 9 3/4.”
